| |
| Dapat dihubungkan dengan | ¨ Ingatan saat ini tentang kejadian hidup traumatik pada masa lalu, seperti bencana alam, kecelakaan, perkosaan, penyerangan, ancaman terhadap konsep diri/kematian, perubahan lingkungan |
| Kemungkinan ditandai oleh | ¨ Peningkatan ketegangan, gelisah ¨ Rasa tidak berdaya, keprihatinan, ketakutan, ketidaktentuan/konfusi ¨ Keluhan somatik, stimulasi simpatis ¨ Rasa ancaman hukuman; ketakutan, teror, panik dan menarik diri |
| Kriteria hasil | ¨ Mengungkapkan kesadaran adanya perasaan ansietas terhadap stimulus yang menakutakan ¨ Mengidentifikasi cara sehat untuk menangani perasaan ini ¨ Menunjukkan kemampuan menghadapi situasi mengguanakan keterampilan penyelesaian masalah ¨ Menunjukkan penurunan gejala fisiologis |
| INTERVENSI | RASIONAL |
| Mandiri · Kaji derajat ansietas yang muncul, perilaku yang berkaitan, dan realitas ancaman yang dirasakan oleh klien. · Pertahankan dan hargai batas ruang pribadi klien (kira-kira diameter 120 cm di sekeliling klien). · Bentuk hubungan saling percaya dengan klien. · Identifikasi apakah peristiwa telah teraktivasi situasi yang ada sebelumnya atau menyertai situasi (fisik/psikologis). · Observasi dan dapatkan informasi tentang cedera fisik, dan kaji gejala seperti mati rasa, sakit kepala, dada terasa sesak, mual, dan jantung berdetak keras. · Perhatikan adanya nyeri kronis atau gejala nyeri lebih dari derajat cedera fisik. · Evaluasi aspek sosial trauma/peristiwa tersebut (mis. Kecacatan, kondisi kronis, ketidakmampuan permanen). · Identifikasi respons psikologis. Perhatikan perilaku tertawa, menangis, tenang, atau agitasi, eksitasi (histeris), ekspresi ketidakpercayaan dan/atau menyalahkan diri sendiri. Catat perubahan emosi. · Tentukan derajat disorganisasi. Indikator tingkat intervensi yang dibutuhkan (mis. mungkin harus dilakukan hospitalisasi jika disorganisasi berat). Perhatikan tanda peningkatan ansietas (mis. diam, gagap, tidak dapat tenang) · Identifikasi perkembangan reaksi fobik terhadap benda biasa (mis. pisau), situasi, dan kejadian. · Dampingi klien, pertahankan sikap tenang dan percaya diri. Bicara dengan pernyataan singkat, gunakan kata-kata sederhana. · Sediakan lingkungan yang konsisten, dan tidak mengancam. · Tingkatkan aktivitas/ keterlibatan dengan orang lain secara bertahap. · Diskusikan persepsi klien tentang apa yang menyebabkan ansietas. · Bantu klien memperbaiki setiap distorsi yang dialami. Bagi persepsi dengan klien. · Bantu klien mengidentifikasi persaan yang dialami dan berfokus pada bagaimana kopingnya. Anjurkan klien untuk membuat jurnal tentang perasaannya, faktor yang mencetuskan, perilaku yang berkaitan. · Gali dengan klien cara klien menghadapi peristiwa yang menimbulkan cemas sebelum trauma. · Libatkan klien dalam mempelajari perilaku koping yang baru (mis. relaksasi otot progresif, berhenti berpikir). · Beri umpan balik positif jika klien mendemonstrasikan cara yang lebih baik untuk menangani ansietas dan mampu menguasai situasi dengan tenang dan/atau realistik. Kolaborasi · Beri obat sesuai indikasi, mis.: Antidepresan:fluoksetin (prozac), amoksapin (asendin), doksepin (sinequan), imipramin (trofranil),
· | · Mengidentifikasi kebutuhan untuk mengembangkan rencana keperawatan. Pemahaman persepsi klien secara jelas sangat penting untuk memberi bantuan yang tepat dalam mengatasi rasa takut. · Masuk keruang pribadi klien tanpa izin dapat mengakibatkan ansietas yang lebih besar, mengakibatkan tindakan kekerasan. · Rasa percaya merupakan dasar hubungan terapeutik sehingga perawat dapat bekerja lebih efektif. · Masalah fisiologis akan kembali terulang setiap trauma kembali dialami dan dapat mempengaruhi cara pandang klien terhadap situasi pada saat ini. · Cedera fisik mungkin dapat terjadi selama suatu kejadian , yang mungkin tertutup oleh ansietas situasi saat itu. Hal ini perlu diidentifikasi dan dibedakan dengan gejala ansietas sehingga dapat diberi penanganan yang tepat. · Respon psikologis dapat memperburuk gejala fisik. · Masalah yang terjadi pada trauma sebenarnya dapat dijadikan pengingat yang terlihat yang harus dihadapi setiap hari. · Meskipun hal ini merupakan respon normal pada saat terjadi trauma, respon ini dapat terulang lagi hingga respon ini dapat dihadapi secara adekuat. · Dapat menunjukkan ketidakmampuan menangani kejadian saat itu (mis. perasaan atau terapi, menetukan perlunya evaluasi yang lebih intensif). · Hal ini dapat memicu perasaan terhadap trauma sebenarnya dan perlu dihadapi secara sensitif, menerima realitas perasaan dan menekankan kemampuan klien untuk menanganinya. · Dapat membantu klien mempertahankan pengendalian diri saat ansietas berada pada tingkat panik. · Meminimalkan stimulus, menurunkan ansietas dan menenangkan individu, serta membantu memutuskan siklus ansietas. · Ketika ansietas menurun maka klien dapat berinteraksi dengan orang lain. · Meningkatnya kemampuan menghubungkan gejala dengan perasaan subjektif ansietas, memberi kesempatan bagi klien untuk memperoleh pemahaman dan membuat perubahan yang diharapkan. · Persepsi berdasarkan realitas akan membantu menurunkan rasa takut. Bagaimana perawat memandang situasi dapat membantu klien melihat situasi dengan cara yang berbeda. · Meningkatkan kesadaran terhadap komponen afektif ansietas dan cara mengendalikan serta mangatasinya. Menulis teurapetik dapat memberi kesempatan klien melepaskan kemarahan, stress, dan berduka, dan membuat pandangan baru. · Membantu klien memperoleh kembali rasa kendali diri dan mengenali makna trauma. · Dengan menyingkirkan perilaku maladaptif dapat meningkatkan kemampuan mengatasi ansietas dan menghadapi stress. Dengan menghentikan pikiran obsesif membuat klien menggunakan energinya untuk menghadapi ansietas yang mendasari, sambil terus merenungkan tentang kejadian yang secara aktual memperlambat pemulihan. · Pemberian penghargaan dan penguatan, mendorong penggunaan strategi koping yang baru. Dengan meningkatkan kemampuan menghadapi rasa takut dan memperoleh kendali diri terhadap situasi, meningkatkan keberhasilan menghadapi situasi yang akan datang.
Jika digunakan oleh ahli terapi yang terlatih, metoda terapi jangka pendek ini efektif terutama pada individu yang pernah mengalami trauma atau yang memiliki masalah dengan ansietas dan depresi. Desensitisasi sistematik, menyusun dan menginterpretasi kembali memori yang ada mungkin dapat dicapai melalui hipnosis. |
| 2. Ketidakberdayaan | |
| Dapat dihubungkan dengan: | ¨ Interaksi intrapersonal (kurangnya pengendalian terhadap peristiwa traumatik) ¨ Adanya gejala ansietas yang berlebihan (mis. Pikiran intrusif, kilas balik, manifestasi fisik) ¨ Gaya hidup dengan keterampilan koping yang tidak berdaya/buruk |
| Kemungkinan ditandai oleh: | ¨ Ekpresi verbal tentang kurangnya pengendalian terhadap situasi sekarang/akibat masa depan; kepasifan dan/atau marah ¨ Keengganan mengekspresikan perasaan yang benar. ¨ Tergantung pada orang lain ¨ Tidak berpartisipasi dalam perawatan atau pembuatan keputusan saat ada kesempatan |
| Hasil yang diharapkan | ¨ Mengidentifikasi area ketika individu memiliki pengendalian diri ¨ Mengekspresikan rasa pengendalian terhadap situasi saat ini/akibat masa depan ¨ Menunjukan keterlibatan dalam perawatan dan merencanakan masa depan |
| TINDAKAN/INTERVENSI | ¨ RASIONAL |
| Mandiri
Kolaborasi Libatkan dalam pelatihan asertif yang sesuai. |
Belajar penyelesaian masalah dalam bidang keterampilan sosial dan pengendalian marah memberi rasa kuat pada individu dalam menghadapi hidupnya secara umum. |
| |
| Dapat dihubungkan dengan/faktor risiko meliputi | ¨ Ingatan intrusif (kacau) tentang suatu peristiwa menyebabkan pengeluaran perasaan secara tiba-tiba seperti saat terjadi peristiwa: reaksi terkejut ¨ Reaksi amuk: amuk yang melewati batas, amuk pada saat timbul rasa tidak berdaya/bergantung pada orang lain atau rasa terbebas dari trauma |
| Kemungkinan ditandai oleh/(indikator yang mungkin:) | ¨ Peningkatan aktivitas motorik (melangkah bolak balik, eksitasi, iritabilitasi (mudah marah), agitasi) ¨ Argumentatif, tidak puas, reaksi berlebihan, hipersensitif, perilaku provokatif;sikap bermusuhan, mengancam secara verbal ¨ Tindakan yang bermaksud jahat dan agresif; tujuan yang diarahkan merusak objek dalam lingkungan Perilaku destruktif dari (meliputi penyalahgunaan zat) dan/atau tindakan aktif, agresif atau bunuh diri/pembunuhan |
| Hasil yang diinginkan/kriteria evaluasi-klien akan; | ¨ Mengakui realitas situasi dan faktor presipitasi ¨ Mengungkapkan kesadaran tentang cara koping positif tentang perasaan Menunjukan pengendalian diri yang ditandai dengan postur/sikap rileks, penggunaan penyelesaian masalah bukan perilaku ancaman atau menyerang untuk menyelesaikan konflik dan/atau koping |
| TINDAKAN/INTERVENSI | RASIONAL |
| Mandiri
Kolaborasi
Beri obat, sesuai indikasi, mis. Litium karbonat (Eskalith). |
Terapi dosis rendah mungkin digunakan untuk membatasi perubahan alam perasaan dan menekan perilaku yang meledak-ledak. |
| Ketidakefektifan koping individu | |
| Dapat dihubungkan dengan: | ¨ Pribadi rentan; harapan yang tidak terpenuhi; persepsi yang tidak realistik ¨ Sistem pendukung/metode koping tidak adekuat Stresor multiple, berulang selama suatu periode waktu; ancaman yang berlebihan pada diri sendiri |
| Kemungkinan ditandai oleh: | ¨ Mengungkapkan ketidakmampuan koping atau sulit meminta bantuan ¨ Ketegangan otot/sakit kepala Ketegangan emosi; kekhawatiran kronis |
| Hasil yang diinginkan/kriteria evaluasi-klien akan; | ¨ Mengidentifikasi perilaku koping yang tidak efektif dan akibatnya ¨ Mengungkapkan kesadaran kemampuan kopingnya sendiri ¨ Mengekspresikan perasaan dengan sesuai ¨ Mengidentifikasi pilihan dan penggunaan sumber secara efektif |
Sabtu, 13 Desember 2008
Langganan:
Komentar (Atom)